Seminar dilaksanakan pada hari kamis tanggal 20 Pebruari 2014 bertempat di Hotel Madani Jalan SM Raja Medan mulai pukul 08.00 s.d 14.00 WIB. Dengan kontribusi/ infak penyelenggaraan seminar (Rp 50.000/ orang). Diharapkan mahasiswa semester 8 nantinya agar bisa mengikuti seminar ini untuk melengkapi SKK pada semester tersebut.
 
Berikut dasar pemikiran di adakannya seminar ini. Saat ini keadaan ummat kita sungguh memprihatinkan. Kebaikan hati nurani terlepas dari akal sehat, ilmu dan teknologi terlepas dari perbuatan baik, nafsu serakah menguasai prilaku, praktik korupsi, kolusi dan nepotisme merajalela. Lingkungan alam dan sosial rusak berat, tindakan kekerasan di rumah tangga dan di masyarakat semakin mewabah dan hampir sebagian besar pemimpin kita telah kehilangan arah dan tujuan hidup yang benar disemua lini  kehidupan sehingga hampir dipastikan kehidupan keluarga, sekolah dan masyarakat telah kehilangan substansinya sebagai lembaga yang mengajarkan bagaimana memberdayakan dan mengarahkan akal, pikiran dan hati untuk kebaikan dunia.
Berbagai analisis menunjukkan bahwa akar masalahnya  adalah telah  terjadi krisis dan tragedi pada dunia pendidikan kita termasuk pendidikan Islam. Krisis terkini  menyangkut pendidikan Islam  adalah rendahnya motivasi  ummat menjadi hamba yang baik kepada Tuhan dan menjadi manusia yang baik bagi sesamanya. Hal ini disebabkan karena  kurangnya rasa cinta dan penghargaan terhadap agama dan ilmu pengetahuan serta kurangnya semangat keilmuan dan tajdid untuk memperbaiki keadaan ummat itu sendiri. Padahal pendidikan Islam pada masa lalu mampu menjadi pendorong dan penjaga moral umat manusia.  
Memudarnya kecemerlangan pendidikan islam sesungguhnya sudah terjadi sejak puluhan  tahun silam. Penyebabnya banyak dan salah satu sebab utama  adalah saat dunia pendidikan islam mengalami dikhotomi keilmuan yakni terbelahnya ilmu agama dengan ilmu dunia, antara wahyu dan alam, serta antara wahyu dan akal. Padahal jauh sebelumnya, dalam sejarah pendidikan Islam telah terpola pengembangan keilmuan yang bercorak integralistik-ensiklopedik yang dipelopori oleh para imuan seperti Ibnu Rusyd, Ibnu Khaldu dan lainnya.
Hilangnya semangat “Inquiry”, membuat kegiatan belajar mengajar di sekolah  menjadi monoton, satu arah dan kurang mampu mengembangkan metode yang dapat melatih dan memberdayakan kemampuan belajar peserta didik. Pendidik dan peserta didik kita hanya terpaku pada metode “menghapal” dan , “menyimak” kurang mengembangkan budaya diskusi, seminar, bedah kasus, problem solving, eksperiment, observasi dan sebagainya. Akibatnya peserta didik memang tahu tentang agama tetapi tidak akan paham tentang agama sehingga akan sulit untuk mengamalkan ajaran agama.

Pendekatan Scientific adalah strategi dan metode guru PAI dalam melaksanakan proses pembelajaran yang diamanatkan oleh pemerintah melalui Permendikbud No. 66 tahun 2013 dan Permendikbud No 81A tahun 2013. Pendekatan Scientific dalam kurikulum 2013 sangat menekankan  pemberdayakan akal, mendorong rasa ingin tahu dengan membaca, meneliti, mencoba dan menemukan rahasia alam dan ilmu pengetahuan yang dulu menjadi supremasi utama dunia pendidikan Islam zaman klasik abad pertengahan. Pendekatan Scientific sebenarnya sama dan sebangun dengan konsep epistimology Islam yang mengitegrasikan ilmu-ilmu  kewahyuan dengan ilmu alam maupun ilmu ilmu sosial kontemporer sehingga keadaan ini  akan membuat  pembelajaran agama menjadi daya tarik yang kuat bagi siswa  untuk melakukan eksperimen dan karya-karya bermanfaat bagi bangsa dan umat manusia. 
Penerapan strategi dan metode pembelajaran dengan menggunakan pendekatan scientific akan mampu  mengembalikan Spirit of Inquiry para pelajar dan guru PAI. Pelajar dan guru PAI akan membangun semangat kebersamaan untuk menjadi masyarakat pembelajar (learning society) dimana keduanya sama-sama menyadari memiliki kelebihan dan kekurangan dan untuk selanjutnya berusaha hidup saling melengkapi. Permasalahannya sekarang adalah apakah guru PAI memahami konsep epistimology Islam sebagai satu sistem keilmuan dalam Islam? apakah guru PAI mampu mewujudkan konsep epistimologi Islam tersebut  dalam proses pembelajaran PAI yang bernuansa pendekatan scientific? Selanjutnya apakah strategi yang peling tepat untuk mengembangkan kemampuan profesional guru Pai setelah berhasil disertifikasi?
Berdasarkan pemikiran  diatas, Himpunan Sarajana Pendidikan Agama Islam (HS-PAI Sumatera Utara akan  membahas persoalan epistimologi Islam dan pendekatan scientific serta peningkatan profesionalisme guru PAI di Sumatera Utara dalam sebuah Seminar Nasional berjudul Epistimoloy Islam, Pendekatan Scientific dalam Kurikulum 2013, dan Pengembangan Profesionalisme Guru PAI”. Seminar Nasional ini  akan diikuti oleh seluruh guru agama SD, SMP dan SMA/SMK dan Madrasah  yang merupakan alumni  jurusan PAI Fakultas Tarbiyah IAIN Sumatera Utara.  Pada saat bersamaan akan dilaksanakan Pelantikan Himpunan Sarjana Pendidikan Agama Islam (HS-PAI) Propinsi Sumatera Utara sekaligus penyerahan mandat kepada alumni PAI daerah untuk membentuk organisasi ini  pada  tingkat Kabupaten/ Kota  se Sumatera Utara.

Post a Comment

 
Top